Siapkan !!! Bekal Akhirat

Siapkan !!! Bekal Akhirat

#3 Perkara Yang Dibawa Mati  (1)

Sahabat Sehati

Ada tiga perkara yang mengikuti mayit: keluarga, harta dan amalnya. Lalu dua perkara kembali dan hanya satu perkara yang menyertainya; keluarga dan hartanya kembali meninggalkan dirinya sedangkan amalnya tetap bersamanya

(HR. Bukhari dan Muslim)

Sahabat Sehati

Manusia umumnya gemar menumpuk atau menimbun harta. Namun mungkin tak pernah disadari bahwa harta mereka yang hakiki adalah yang disuguhkan pada kebaikan. Banyak orang berlomba-lomba mencari harta dan menabungnya untuk simpanan di hari tuanya. Menyimpan harta tentunya tidak dilarang selagi ia mencarinya dari jalan yang halal dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya atas harta tersebut, seperti zakat dan nafkah yang wajib.

Namun ada simpanan yang jauh lebih baik dari itu, yaitu amal ketaatan dengan berbagai bentuknya yang ia suguhkan untuk hari akhir. Suatu hari yang tidak lagi bermanfaat harta, anak, dan kedudukan. Harta memang membuat silau para pecintanya dan membius mereka sehingga seolah harta segala-galanya. Tak heran jika banyak orang menempuh cara yang tidak dibenarkan oleh syariat dan fitrah kesucian seperti korupsi, mencuri, dan menipu. Padahal betapa banyak orang bekerja namun ia tidak bisa mengenyam hasilnya. Tidak sedikit pula orang menumpuk harta namun belum sempat ia merasakannya, kematian telah menjemputnya sehingga hartanya berpindah kepada orang lain. Orang seperti ini jika tidak memiliki amal kebaikan maka ia rugi di dunia dan di akhirat. Sungguh betapa sengsaranya.

#3 Perkara Yang Dibawa Mati  (5)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلاً

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al-Kahfi: 46)

Dan firman-Nya:
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ

“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (An-Nahl: 96)

#3 Perkara Yang Dibawa Mati  (3)

Sahabat Sehati

Dari Imam Al Ghazali, di dalam Hadist Qudsi, Allah SWT berfirman :”Wahai anak Adam !.

Aku heran kepada manusia yang meyakini adanya kematian, namun ia bergembira (seolah mati itu tidak ada);

Aku heran kepada manusia yang meyakini hisab (hari perhitungan semua amal manusia/hari pembalasan), namun ia semakin tamak mengumpulkan harta;

Aku heran kepada manusia yang meyakini adanya akhirat, namun ia tetap bersantai (untuk urusan duniawi);

Aku heran kepada manusia yang meyakini adanya kesirnaan dunia, namun ia menggantungkan ketenangan kepadanya (dunia);

Aku heran kepada orang yang pandai bersilat lidah, namun sesungguhnya jiwanya kosong;

Aku heran kepada orang yang bersuci dengan air, tapi ia tidak pernah membersihkan hatinya;

Aku heran kepada orang yang sibuk mengurusi aib orang lain, sementara ia lupa pada aib dirinya sendiri;

Aku heran kepada orang yang mengetahui bahwa Allah melihatnya, namun ia mendurhakanya;

Aku heran kepada orang yang percaya bahwa ia akan mati dan sendirian dalam kuburnya, namun ia
tidak senang bergaul dan berbuat baik dengan sesama.

(Sesungguhnya) Tiada Tuhan selain Aku, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Ku.

pedulisehati.net sedekah menyehatkanSahabat Sehati

Marilah kita pada kesempatan kali ini untuk kembali mengingat tentang firman Allah yang tercantum dalam surat Al hasyr ayat 18

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dalam ayat di atas, Allah menyeru kepada orang-orang beriman agar supaya mereka bertaqwa kepada Allah Ta’ala dan agar masing-masing melihat terhadap pribadi sendiri-sendiri, terhadap amalan yang sudah disiapkkan untuk hari itu. Setiap orang yang beriman diperintahkan Alllah untuk selalu melihat bekal apakah yang telah kita, mememperhatikan amalnya sendiri-sendiri, untuk selalu melihat dan memperhatikan bekal apakah yang sudah disiapkan untuk menghadapi hari esok yaitu hari akhirat ketika kita kembali kepada Allah ta’ala. Karena tidak ada yang lolos dari yang namanya al maut yaitu kematian. Kematian pasti akan mendatangi kita dalam keadaan sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, kalau sudah waktunya akan mendatangi manusia kita tidak bisa mengelak, tanpa bisa diundur sedikitpun walau sebentar saja. Oleh karena itu kita sebagai orang yang beriman selalu mengadakan persiapan-persiapan, perbanyaklah amal sholeh dan ibadah-ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Jangan sia-siakan waktu kita begitu saja lewat tanpa amal sholeh, ketaatan dan ibadah kepada Allah ta’ala supaya tidak menyesal.

#3 Perkara Yang Dibawa Mati  (2)

Sahabat Sehati

Kematian datang kepada manusia ibarat tamu, tentu saja kalau kita hendak ketamunan kemudian kita sudah siap untuk menyambut tamu tersebut tentu jika tamu itu hadir kita akan tenang-tenang, kita akan santai. Karena kita sudah mempersiapkan diri.

Dalam tarikhnya, Ibnu Asyakir menceritkan tentang khalifah Abdul Malik bin Marwan yang telah manaklukkan berbagai negeri di penjuru dunia. Pada detik-detik akhir hidupnya. Tatkala beliau sakit di akhir hayatnya kemudian ditanyakan kepada beliau “apa yang anda rasakan wahai amirul mukminin?” sang amirul mukminin menjawab, “aku sebagaimana yang Allah firmankan

“dan Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu.” Q.S Al An’am 94

Kemudian beliau mensifati kenikmatan dunia dengan “sesungguhnya apapun kenikmatan dunia itu tetap saja singkat,sebesar apapun kenikmatan dunia tetap saja hina”

Apa yang dirasakan oleh khalifah abdul malik ini mewakili semua insan, bahwa manusia akan menghadap Allah sendiri-sendiri, bermula ketika manusia menemui ajalnya. Maka keluarga, teman dan sebagian hartanya akan menyertai ke tempat ia akan dikuburkan namun keluarga yang disayanginya tak satupun sudi menyertainya, mereka pun tak ingin jenazah itu tetap tinggal bersama mereka. Meskipun dalam masa hidupnya ia selalu mencurahkan segala kasih sayangnya kepada keluarganya. Sebagaimana ia dilahirkan tidak membawa apa-apa maka ia kelak matipun tidak membawa apa-apa.

Sahabat Sehati

Mari sejenak kita mengandai atau mengkhayal jika posisi kita sebagai orang yang mati itu, toh kita juga akan merasakan kematian. Pernahkan kita membayangkan bagaimana kelak kita menjalani hari-hari selama di alam kubur tinggal seorang diri di tempat yang sangat sempit dan gelap, andaikan kita terjebak di dalam lift sehari saja pasti kita akan merasa sedih. Lantas bagaimana nasib seseorang dengan orang yang ada di dalam liang lahat sampai hari dibangkitkannya dari kuburannya. Hidup sendirian mau menangis dan meminta tolong tidak ada yang menolong.

Berapa banyak manusia yang terasing di gelapnya kubur, hanya berkawan siksa karena amat buruknya perbuatannya di dunia tanpa tersedianya makanan, tidak ada cahaya, tidak ada celah untuk bernafas dan tidak ada hiburan untuk mengobati rasa

doa-untuk-donatur-peduli-sehati-sehat-dan-kaya